Feeds:
Posts
Comments


Aku punya sebuah kegemaran, yang mungkin sedikit agak tidak lazim. Aku juga tidak tahu kapan awalnya aku mulai menyukai hal ini, mungkin sejak lebih dari 10 tahun yang lalu, saat aku menjadi mahasiswi dan menetap di Jakarta. Seringkali pulang malam karena terlibat berbagai kegiatan atau sekedar hang out dengan teman, menimbulkan satu kegemaran baru buatku. Di dalam mobil yang melintasi jalan-jalan layang ibu kota di malam hari, ada yang menarik perhatianku. Aku selalu memandang keluar jendela dan melihat ke arah lampu-lampu jalan ataupun lampu-lampu gedung bertingkat. Ada perasaan yang tidak bisa kulukiskan dalam hatiku. Rasa senang, rasa damai, sendiri tapi tak sepi, dan aku betul-betul menikmati pemandangan malam dengan lampu-lampu kecil berwarna-warni itu.

Biasanya aku diam, tak banyak bicara, hanya memandangnya, menikmatinya, melebur di dalamnya, seolah aku berada di dunia tiada berbatas, yang gelap dan dingin, namun ada kehangatan kecil di sana, ada sinar-sinar yang memberikan perasaan damai, yang menghilangkan rasa takut ataupun kesendirianku saat berada di ruang tak berbatas itu.

Aku jadi sangat menikmati ritual ini, tiap kali pulang malam dan melewati jalan-jalan layang ibu kota, selalu kupalingkan wajahku ke luar jendela mobil, melebur di dalam kegelapan dan dinginnya malam, dan merasakan kehangatan dari sinar-sinar kecil itu. Lucunya karena begitu menyukai hal ini sempat aku berseloroh dengan temanku, aku ingin cari pacar hanya karena aku ingin diantar keliling kota malam hari, untuk menikmati hobbyku ini ☺.

Sudah lama sekali, aku jarang bisa menikmati hobbyku ini, karena tentunya aku sudah jarang pulang malam, atau kalaupun pulang malam situasinya tidak memungkinkan aku untuk menikmati hobbyku itu. Dan satu hal lagi, sayangnya sampai detik ini aku belum menemukan orang yang tepat yang mau mengantarku keliling kota di malam hari ☺.

Namun beberapa waktu yang lalu, aku harus pulang malam naik ojek dan ternyata melewati jalan layang. Kembali setelah sekian lama, akhirnya aku bisa menikmati suasana malam dengan lampu-lampu kecil yang begitu indah. Dulu aku sangat takut naik motor dan cenderung memejamkan mataku kalau motor melaju dengan kencang. Lama-lama setelah terbiasa, aku lebih suka membuka mataku untuk menikmati jalanan yang kulewati. Begitu juga malam itu, saat melewati jalan layang, aku membuka mataku lebar-lebar dan kembali merasakan diriku melebur ke dalam langit malam yang gelap. Kali ini tiada lagi kaca jendela mobil yang menjadi penghalang, aku benar-benar merasa menyatu dengan gelap dan luasnya langit malam, di atas motor yang melaju kencang.

Kutolehkan kepalaku ke kanan, melihat titik-titik kecil lampu gedung dan lampu jalan yang banyak dan bersinar di tengah kegelapan malam. Ah… betapa indahnya, perasaan senang ini tak terlukiskan. Sedetik kemudian aku menyadari, mengapa aku begitu menyukai hal ini, mengapa selalu ada perasaan damai terselip di dalam hati walau gelap dan dingin menyelimuti.

Langit malam ini, layaknya samsara, begitu gelap, dingin dan menyakitkan, berulang kali, lagi dan lagi, kita manusia masih terjebak di dalamnya. Begitu pula batin ini, selama masih berada dalam samsara, kegelapan masih menyelimuti di sana. Tetapi, hei… begitu banyak sinar-sinar kecil yang membawa kehangatan, tanpa lelah berusaha memberikan terang di tengah kegelapan, karena itulah ia tampak begitu indah. Sinar-sinar itu adalah benih ke-Buddha-an di dalam hati kita masing-masing, setitik sinar harapan di tengah gelapnya dunia. Yah… itulah yang kurasakan, itulah yang membuatku tetap hidup hingga detik ini, sebuah sinar, setitik kecil harapan, bahwa suatu saat nanti ia akan dapat bersinar begitu terangnya hingga menghalau kegelapan untuk selamanya.

Sinar kecil ini, membuatku tidak merasa sepi ataupun sendiri, walau berada dalam dingin dan gelapnya samsara. Tentu saja, karena ‘Buddha’ selalu ada di sana, di dalam hatiku, sejak dulu, sekarang, nanti dan selamanya. ‘Buddha’ di dalam hatiku, adalah setitik harapan yang membuatku tidak berputus asa, yang membuatku selalu merasakan kedamaian, dan yang pasti membuatku yakin serta percaya, bahwa suatu hari nanti, gelap ini akan berlalu…

Jakarta, 9 February 2010
~Jen~

LAKON

Tak kuingat lagi kapan mulanya… peran-peran itu aku mainkan…
Tak kuingat lagi apa awalnya… hingga aku terjebak dalam beribu lakon ini…

Yang kutahu aku sangat lelah…
Yang kutahu aku sudah muak!

Puji-pujian itu selalu memabukkan,
Bagai anggur merah yang membuatmu ketagihan!
Sorak sorai dan tepukan itu laksana candu yang menjeratmu,
Semakin dalam meresap dan mengakar…

Wajah-wajah penuh suka cita itu tampak bagai seringai serigala,
Yang siap menerkammu kapan saja kau lengah!

Dan cerca maki itu…saat gerak lakumu tak seperti yang mereka mau…
Rasanya begitu menyakitkan…
Bagai pisau sembilu mengiris hatimu,
Perlahan…semakin dalam…menorehkan kepedihan…

Ucapku…ini bukan suaraku!
Nyanyianku… ini bukan laguku!
Tarianku… ini bukan gerakku!
Peranku…ini bukan lakonku!

Aku muak! Aku ingin teriak!
CUKUP! CUKUP! CUKUP!

Cukup sampai di sini…lakon ini kumainkan…
Cukup sampai di sini…semua kepalsuan ini!

Dan heningpun berbicara…
…………………

Panggung ini tetap ada…
Aku masih berdiri di sana…
Di atas panggung bernama kehidupan…

Tapi yang kuucap adalah suara hatiku…
Yang kunyanyikan adalah lagu yang mengalun dalam symphony hidupku…
Gemulai lekuk tubuhku bergerak menarikan tarian jiwaku…
Dan kumainkan lakonku sendiri apa adanya…

Tak perduli ada atau tiada penonton di sana…
Tanpa sorak sorai dan gegap gempita…
Kumainkan lakonku sendiri…
Hingga tirai tertutup, mengakhiri kisahku dalam samsara ini…

Jakarta, 19 January 2010

~Jen~

di dalam diam kubicara…

Refleksi 2009


Kurang dari satu jam lagi tahun 2009 akan berakhir, berganti ke tahun yang baru, tahun 2010. Meskipun setiap detik adalah baru, tetapi pergantian tahun selalu membawa kesan tersendiri. Hampir 365 hari kulewati di tahun 2009 ini, banyak hal yang terjadi pada diriku, banyak hal yang membawa perubahan besar dalam hidupku…

Di tahun ini, tanpa sengaja aku dipertemukan dengan sahabat-sahabat baru yang memberikan warna tersendiri buat hidupku. Aku belajar banyak dari sahabat-sahabatku ini, ya banyak hal, tentang artinya kegembiraan, tentang artinya kebersamaan, tentang artinya cinta, persahabatan dan tentang artinya hidup… Aku sangat bersyukur dan berterima kasih kepada sahabat-sahabatku ini…

Di tahun ini aku belajar untuk membuka hatiku agar dapat merasakan betapa indahnya dunia dan hidup ini, bila kita bisa menjalaninya dengan penuh kesadaran… hidup yang semula selalu kuanggap sebagai sesuatu yang menyedihkan dan penuh kesengsaraan… Aku menyadari bahwasanya kebahagiaan sesungguhnya hanya tergantung dari cara pandang saja. Saat aku belajar melihat segala sesuatu dari sudut yang berbeda, aku jadi bisa merasakan betapa beruntungnya aku. Aku lebih bisa memahami dan menghargai orang lain.

Tahun ini banyak kehilangan yang aku rasakan, mulai dari hal-hal kecil hingga kehilangan besar yang semuanya telah mengajarkanku untuk ‘belajar melepas’ , tidak terikat dengan segala sesuatu yang ada, karena pada dasarnya segala yang terkondisi tidak kekal adanya. Tahun ini karena harddisk laptopku rusak, tidak ada satupun data yang selamat, padahal banyak file yang aku tidak memiliki copy nya lagi, file-file yang tentunya penting untukku, tetapi ya sudahlah… Kehilangan terbesar yang terjadi padaku di tahun ini adalah kepergian popo dari kehidupan ini. Aku sempat menyaksikan popo yang terbaring lemah di saat-saat terakhirnya, yang membuatku jadi menyadari memang tiada yang abadi, setiap kita pasti akan bertambah tua, menderita sakit dan akhirnya mati, itu adalah pasti. Kita yang masih hidup di dalam lingkaran samsara ini tidak akan luput dari kematian.

Belajar berbesar hati, itu juga pelajaran yang kudapat di tahun 2009 ini. Menyukai satu orang untuk waktu lebih dari sepuluh tahun lamanya, kadangkala membuatku bertanya sendiri, apakah ini cinta? Apakah ini hanya sekedar rasa penasaran belaka? Ataukah ini sesungguhnya hanya keterikatan yang berbalut kesetiaan? Pada akhirnya aku menyadari, dan aku bisa menerima dengan berbesar hati, dia bukanlah untuk diri ini. Pada akhirnya aku bisa melangkah maju melepaskan diri dari belenggu keterikatan masa laluku….

Akhir tahun ini, perubahan besar terjadi pada hidupku. Mendapat pekerjaan baru yang semula tidak pernah kuduga, pekerjaan yang seharusnya menjadi impianku, tetapi ternyata semua tidak semudah yang aku bayangkan. Aku sendiri tak tahu mengapa aku menerima pekerjaan ini, karena semula aku sudah memiliki rencana yang lain untuk hidupku. Tetapi kembali lagi hidup ini pilihan, aku sudah menetapkan pilihan mengikuti kata hatiku, dan untuk itu aku harus percaya, ada hal yang harus kupelajari dari setiap kesusahan yang aku alami, dari setiap air mata yang aku teteskan dan dari setiap sakit hati yang aku rasakan. Semua itu pun mungkin sesungguhnya hanya persepsiku saja? Sesungguhnya tidak ada yang namanya kesusahan itu, tidak perlu air mata dan tidak seharusnya hatiku merasakan sakit? Aku tidak tahu, aku hanya percaya, semua yang terjadi pasti ada sebabnya, dan semua yang terjadi dalam hidup ini adalah sebuah proses pembelajaran yang bisa menjadikan kita lebih baik.

Saat ini, di tengah sedikit rasa bimbang yang masih kurasa, rasa sepi yang kadangkala menyapa dan rasa hampa yang kerap menyiksa, tahun akan segera berganti tanpa memberiku sedikit waktu untuk bisa menemukan jawabannya…

Tahun akan segera berganti, jalan panjang baru akan kutapaki, semoga aku selalu memiliki semangat, kesabaran dan kesadaran di dalam menjalaninya. Karena kutahu yang pasti, semua ini semata untuk satu tujuan, tujuan hidupku saat ini, nanti dan selamanya…

Selamat Tahun Baru 2010, kembali tak putus kumohonkan harapan yang selalu sama lagi dan lagi: “Semoga semua makhluk berbahagia…”

Jakarta, 31 Desember 2009
~Jen~

Kristal


Aku suka kristal, karena buatku kristal itu cantik dan indah.
Kristal itu bening dan sedikit menyilaukan.
Dari segala jenis barang berharga, kristal memiliki magnet tersendiri buatku.
Kristal itu menyimpan kekuatan di dalam setiap sudutnya yang bening
Tetapi sekali kau menjatuhkannya dia bisa hancur berkeping-keping…
Kristal itu tampak kokoh walau nyatanya dia begitu mudah terluka…

Memandang kristal ada perasaan tersendiri terselip di hatiku…
Bagai dapat merasakan kesepian sekaligus keheningan dalam diamnya yang dingin…
Tak banyak orang menyukai kristal, yang sepertinya sangat sulit dipahami…
Apa indahnya sebongkah kaca yang tak bermakna?
Tak banyak yang menganggapnya berharga karena merasa tak ada fungsinya…

Tetapi tetap aku menyukai kristal, karena kilau kecilnya telah menyentuh hatiku…
Sekalipun cahaya itu bukan berasal dari dalam dirinya, tetapi sekecil apapun cahaya yang diterimanya akan dibaginya untuk yang lain…
Lewat kilaunya yang indah, ke segala penjuru…

Aku sangat sangat menyukai kristal…
Mengapa?
Karena bagiku kristal begitu mirip dengan aku…

Jakarta, 29 Desember 2009
~Jen~

The Journey


Bulan November sudah hampir berlalu, tapi belum ada satupun tulisan yang aku hasilkan di bulan ini selain dua buah puisi. Bukan, bukan karena aku kehilangan inspirasi untuk menulis, banyak sekali yang ingin kutulis, tetapi rasa lelah dan penat membuatku enggan untuk memulainya. Kesibukan di tempat kerja baru sangat menyitaku, karena masih dalam masa penyesuaian tentunya dan ini bukan hal yang mudah. Beradaptasi buatku bukan hal yang sulit, tetapi kali ini agak berbeda, karena aku harus berhadapan dengan sesuatu yang sebenarnya merupakan kelemahanku. Tetapi aku tidak mau lari, aku menyadari ini harus kuhadapi, sekarang atau nanti, kalau aku tidak berusaha mengatasinya, ini akan jadi sebuah masalah. Dengan mengatasinya aku percaya akan ada kebaikkan yang bisa kudapat. Lagipula belajar mengatasi kelemahanku ini juga sekaligus melatih kesabaranku.

Bicara mengenai lari dari masalah, ini sekali lagi mengingatkanku akan kehidupan yang aku jalani. Aku menyadari, sungguh menyadari bahwa hidup ini adalah rangkaian ketidakpuasan buat aku yang masih berada dalam lingkaran samsara. Menyaksikan popo yang terbaring di ranjang rumah sakit, dengan tubuh yang tinggal tulang dibalut kulit, dan nafas yang terasa berat, aku dihadapkan pada kenyataan bahwa segala yang terkondisi tidak kekal adanya. Aku jadi sedikit mengerti bagaimana perasaan pangeran Siddharta saat melihat orang tua dan orang sakit. Suatu hari nanti tubuh ini pun akan seperti itu, tubuh yang saat ini mungkin susah payah kita rawat dengan biaya yang tidak sedikit, suatu hari semua itu tidak lagi ada artinya… yang tersisa hanyalah keriput di sana sini, rambut yang memutih, gigi yang sudah tak lengkap lagi, dan tenaga yang bahkan untuk membuka matapun sudah tidak sanggup…

Melihat kenyataan ini, lagi dan lagi, di dalam diri ini ada ketidakpuasan, mengapa diri ini masih harus mengalaminya? Mengalami lagi kelahiran yang berulang? ‘Jalan’ sudah ditunjukkan oleh guru Buddha “yang sadar”, tetapi sudahkah diri ini menapaki ‘jalan’ itu? Mengapa begitu sulit untuk memutuskan? Kadangkala keinginan itu timbul di dalam hati kecil ini, keinginan untuk menapaki ‘jalan’ sepenuhnya. Tetapi rangkaian proses di dalam hidupku telah memberiku banyak pelajaran. Hidup dalam tekanan, rasa ego, keinginan untuk memuaskan setiap orang, dan banyak lagi hal lainnya, akhirnya membuatku menyadari apa yang seharusnya kulakukan dalam hidup ini, apa yang sebenarnya menjadi tujuan hidupku saat ini, nanti dan selamanya. Walaupun kadangkala masih sedikit kurasa sedih di dalam hati, merasa ada yang patut disayangkan karena tak dapat diwujudkan… tetapi aku tidak mau menjadikan ‘jalan’ ini sebagai pelarianku atas masalah-masalah dalam hidupku saat ini. Aku ingin menempuh ‘jalan’ ini dengan keikhlasan, ketulusan dan keyakinan yang kuat bahwa suatu hari nanti, entah setelah berapa banyak kehidupan lagi, di dalam ‘jalan’ ini akan kucapai tujuanku. Dan saat itu adalah akhir dari perjalanan panjang tak berujung ini…

Aku percaya dalam kelahiran ini ada yang harus kulunasi dan kutuntaskan, ada kebajikan yang harus kulakukan dalam proses menuju kesempurnaan. Dan aku menyadari bahwa kesempurnaan bukanlah suatu yang dengan mudah diperoleh dalam semalam, aku yang masih penuh noda, butuh waktu untuk perlahan-lahan mengikis semua noda ini. Perlu proses untuk bisa melihat kebenaran secara utuh dan nyata, bukan hanya sebagai potongan-potongan yang seringkali tampak berbeda. Untuk itulah aku sudah memutuskan pilihanku, untuk menerima apa yang menjadi karmaku dengan tangan terbuka dan hati yang lapang, serta menjalaninya dengan sepenuh hati, apapun itu, di dalam keyakinanku, semoga karenanya aku bisa menjadi lebih baik lagi agar dapat terus melanjutkan perjalananku menyeberangi samudera samsara menuju ke pantai bahagia, Nibbana

Jakarta, 29 November 2009
~Jen~

Sebuah Teguran

shame

Kemaren sore gue pergi ke dokter gigi, seperti biasa benerin gigi gue yang emang dah ancur-ancuran. Pulangnya rada malem juga, karena cukup lama prosesnya harus bongkar crown gigi gue yang lama dan akan diganti yang baru. Hampir jam 8 gue baru selesai, dan gue orang terakhir di klinik itu. Untungnya kost gue gak jauh dari klinik gigi nya, so biar malem gue gak terlau masalah. Karena dah malem gue pikir ya naek taxi aja deh kali, tapi waktu gue keluar gerbang, ada ibu-ibu separuh baya yang nawarin ojek? Hm.. boleh juga neh naek ojek bakal lebih cepet gue pikir. Ya alhasil gue putusin naek ojek, waktu gue tanya berapa ongkosnya langsung dibilang lima belas ribu, karena biasa bawaan nawar, gue tawar deh tuh, tapi dengan sopan tuh ibu bilang, wah dah murah ini gak dimahalin, biasa juga dua puluh ribu. Okelah gue gak mo memperlama waktu karena dah malem juga. Sempat gue denger si ibu nawarin ke rekan ojeknya yang cowok, mau narik atau nggak? Tapi ditolak oleh rekannya, sehingga akhirnya gue tetep naek ojek si ibu.

Sepanjang perjalanan dari klinik sampai kost, ibu ojek itu banyak cerita. Benernya gue gak bisa terlalu denger apa yang dia ceritakan karena tentunya dia ngomong sambil ngadep depan ditambah pula suara angin, jadi hanya sebagian-sebagian yang gue denger. Awalnya dia cerita bagaimana rekan ojek nya yang tadi ditawari narik itu sudah punya istri cantik tapi masih juga nyeleweng, padahal perempuan selewengannya itu sama sekali kagak cantik dan gak sebanding sama istrinya. Dia cerita juga bagaimana kadangkala temannya sesama tukang ojek seringkali mengumpat dan marah-marah karena tidak ada sewa dan biasanya si ibu selalu nawarin dulu ke rekan ojek yang lain kalau ada sewa, karena prinsipnya rejeki gak lari ke mana, Tuhan sudah mengatur. Sampai terakhir dia ada cerita seringkali dia ngantar orang sampai jam 1 pagi ke arah Pondok Indah, pernah juga ke Kelapa Gading, dan paling sedih kalau kena ranjau paku, habis sudah duit hasil ojek untuk ganti ban. Polisi-polisi di sekitar tempat dia mangkal biasa sudah kenal sama dia.

Gak kerasa sepanjang jalan gue dengerin ceritanya, tau-tau sudah sampe juga di kost. Gue buka dompet, yang terlihat duit dua puluh ribu, tanpa pikir panjang gue kasih aja ke si ibu, gue seneng karena dia orang yang ramah, jadi buat gue gak masalah kasih dia lebih, lagian kayaknya emang masih pantas ongkos segitu. Dan yang cukup buat gue surprised, si ibu yang mendapat duit lebih dari gue itu gak cuma ucapin terima kasih, sambil nepuk tangan gue, dia bilang ‘makasih ya de, ibu doain biar sukses’. Gue cuma bisa bales ‘sama-sama bu, kali aja besok-besok saya ke klinik situ lagi, saya butuh diantar ibu lagi’.

Setelah itu otak gue jadi mikir, hampir seminggu ini mood gue lagi jelek banget, hanya karena harus ngadepin bos di kantor yang cerewetnya minta ampun, tapi kalau dipikir-pikir gak sebanding banget apa yang gue alami sama yang si ibu harus hadapin tiap hari. Dia gak muda lagi, gue bisa liat dari penampilan dan uban yang menghiasi rambutnya, tapi semangatnya untuk bekerja dan berjuang dalam hidup ini bisa gue rasain dan itu jauh lebih dibandingkan apa yang gue miliki. Seorang perempuan dalam usianya yang tidak muda lagi, harus berprofesi jadi tukang ojek dan seringkali membawa penumpang hingga tengah malam bahkan pagi, tetapi masih bisa melakoninya dengan penuh semangat dan senyuman. Gile gue bener-bener merasa ditampar… gue duduk di kursi yang nyaman, di depan laptop, dalam ruangan ber-AC, dengan kerjaan yang tidak terlalu berat tapi gue masih mengeluh hanya karena harus dengerin bos gue yang ngoceh-ngoceh?? Ow ow ow gue malu banget… kenapa rasanya kok gue jadi gak mensyukuri apa yang gue dapet, kenapa rasanya gue jadi gak punya semangat untuk berjuang? Gue tau, ‘Tuhan’ selalu punya cara untuk ‘menegur’, ‘mengingatkan’ atau bahkan sekedar untuk ‘menyadarkan’ gue. Hari ini gue dipertemukan dengan ‘malaikat’ yang hebat, wanita yang tidak hanya punya semangat juang tinggi tetapi juga kebaikan hati, gue bisa merasakan itu.

Gue nulis ini untuk mengingatkan diri gue dan untuk penghargaan ke si ibu ojek itu. Gue mo bilang terima kasih sekali lagi, bukan untuk doa nya ke gue biar gue sukses, tapi lebih dari itu, terima kasih untuk mengingatkan gue untuk mensyukuri apa yang sudah gue dapatkan di hidup gue ini, dan untuk terus memiliki semangat dalam menjalani kehidupan gue sesulit apapun itu.

“Terima kasih ya bu atas pelajaran yang saya dapat dari ibu. Saya sama sekali gak ada apa-apanya dibanding ibu, semoga ibu bisa selalu berbahagia, serta tetap memiliki semangat dan kebaikan hati di dalam menjalani kehidupan ini…”

Jakarta, 29 Oktober 2009

~Jen~

Baik vs Bodoh

104676-bigthumbnail

Banyak yang bilang, orang baik itu hampir tidak ada bedanya dengan orang bodoh. Entahlah sampai sekarang aku masih belum berani untuk menilai apakah statement itu benar atau salah, karena bagiku segala sesuatu itu sangatlah relatif, tergantung dari situasi, kondisi, tempat, waktu dan banyak hal lainnya. Menjadi orang baik itu tidak mudah menurutku, tapi jadi orang bodoh jauh lebih mudah dan lebih sering kita lakukan. Kadangkala aku berpikir apa sih yang sering membuat orang beranggapan kalau orang baik itu cenderung bodoh? Mungkin karena kebaikan seseorang, seringkali ia jadi dimanfaatkan, dan karena itu orang menilainya bodoh? Entahlah, kembali menurutku semuanya itu relatif.

Aku sendiri bukan seorang malaikat yang baik hati, tetapi dalam hidup ini aku berusaha untuk menjadi orang baik. Aku menyadari dan mengalaminya sendiri, kadangkala kebaikanku memang seringkali dimanfaatkan oleh orang lain. Cukuplah aku sendiri yang tahu akan hal itu, dan memang sudah menjadi pilihanku untuk tetap melakukannya, sehingga aku bukannya bodoh, tetapi karena memang aku ingin berbuat baik saja. Sebab bagiku berbuat baik bukanlah karena aku ingin mendapatkan pujian, bukan karena itu… melainkan karena aku tahu disakiti itu tidak menyenangkan, karena aku tahu dibohongi itu mengesalkan, dan karena aku tahu menjadi orang baik itu adalah sebuah latihan buatku…

Masalah menjadi orang baik ini, aku rasa semua agama mengajarkannya. Kalau diteliti lebih jauh, banyak kisah orang suci yang berbuat baik, saking baiknya malah, sampai-sampai jadi dinilai bodoh, karena tak jarang mereka mengorbankan dirinya sendiri demi kepentingan orang ataupun makhluk lain yang bukan siapa-siapa mereka, dan bahkan sebaliknya yang sudah menyakiti mereka. Tetapi aku menyadarinya, bagi mereka yang melakukan kebaikan sedemikian rupa, adalah karena rasa cinta kasih yang begitu besar, sebuah pengorbanan yang tidak dapat dinilai dengan apapun juga, yang bagi mereka apa yang dilakukan bukanlah apa-apa, hanya merupakan sebuah bentuk latihan untuk penyempurnaan diri.

Dalam kehidupan di dunia saat ini, sulit sekali menemukan orang-orang seperti itu, karena hidup kadangkala menuntut manusia untuk bersikap egois, yang seringkali pun sebenarnya hal ini hanyalah dalih dan pembenaran semata. Bagi manusia yang masih menggenggam erat ‘aku’, cenderung untuk mendahulukan kepentingan ‘aku’ dibanding memiliki rasa belas kasihan ke orang lain, ataupun hanya sekedar untuk memikirkan kepentingan orang banyak.

Tetapi memang kita juga tidak bisa menuntut orang-orang untuk menjadi baik hingga rela berkorban sampai sedemikian rupa, karena segala tindakan itu seharusnya dilandasi dengan kebijaksanaan. Dan sebenarnya semua itu balik lagi ke yang namanya pilihan. Menjadi orang baik itu sebuah pilihan, sementara menjadi orang bodoh itu lebih karena nasib dan keadaan. Kebanyakan orang mengira si baik hati ini bodoh sekali, tetapi sebenarnya seringkali itu memang pilihannya untuk menjadi baik hati, dilandasi oleh kesadaran, cinta kasih dan ketulusan, sehingga sesungguhnya kita tidak bisa mencapnya sebagai orang yang bodoh, walau bagi orang yang melihat hanya ‘luar’ nya saja akan menganggap demikian.

Orang bodoh sendiri kalau menurutku adalah mereka yang memang sesungguhnya tidak memahami dan mengetahui apa yang mereka lakukan. Mereka hanya ikut di dalam arus tanpa tahu untuk apa, untuk siapa, dan mengapa. Mereka tidak tahu  tujuan mereka, dan hanya ‘mengikuti’ maunya orang lain.

Ternyata memang benar sekali kata pepatah, dalamnya laut bisa diduga, tapi hati orang siapa yang tahu? Kita tidak pernah tahu maksud dan pemikiran orang lain, begitu banyak orang munafik di dunia ini. Banyak yang tampak baik di luar tetapi tidak demikian sesungguhnya, sementara yang lainnya tampak begitu bodoh tetapi sesungguhnya mereka hanya berusaha menjadi orang baik. Ya semua adalah pilihan masing-masing orang, dan kita seharusnya menghargai itu. Semua orang punya tujuan dalam hidupnya yang ditempuh dengan caranya masing-masing. Cara-cara yang kadangkala mungkin ‘membodohi’ orang lain, cara-cara yang kadangkala merugikan dan menyakiti orang lain. Tetapi kembali lagi semua itu sangat relatif, baik-buruk, jahat-baik, bodoh-pintar, tergantung sudut pandang yang menilai. Apapun itu, biarlah setiap orang bertanggung jawab atas apa yang mereka perbuat…

Jadi, apakah orang baik itu bodoh? Anda tidak akan pernah tahu…

Jakarta, 28 Oktober 2009

~Jen~

Papi, apa kabar?

Tidak terasa 7 tahun sudah berlalu sejak hari itu, hari dimana papi harus pergi meninggalkan kehidupan ini, meninggalkan mami, koko, Jen dan King-king. Rasanya masih seperti kemarin, masih terbayang jelas di ingatan Jen saat harus melepas kepergian papi. Selama hampir 5 hari menahan air mata, betapa beratnya untuk Jen, yang paling tidak tahan dengan perpisahan, tapi karena tidak mau memberatkan papi, Jen menahan air mata itu supaya tidak jatuh. Sampai akhirnya, saat aba-aba untuk menekan tombol oven kremasi diucapkan, tumpah juga segala kesedihan itu… isakan tangis tanpa air mata, yang baru sekali seumur hidup Jen alami… ternyata istilah air mata buaya itu tidak salah juga, karena kesedihan yang sesungguhnya itu membuat kita bahkan tidak mampu untuk menitikkan air mata…

Papi, Jen gak mau cerita yang sedih-sedih lagi sama papi, semua kesedihan sudah seharusnya berlalu. Surat yang Jen tulis ini, sebagai pengganti cerita yang ingin Jen sampaikan ke papi, seperti dulu saat kita sering ngobrol di toko, tentang banyak hal. Jen merindukan hari-hari itu, karena buat Jen, papi adalah teman bicara yang menyenangkan. Jen yang termasuk sulit bila harus bicara dengan orang, sama seperti papi tentunya, tapi kalau kita sudah bicara, rasanya menyenangkan sekali, apalagi  saat kita membahas soal marketing. Dan taukah papi, sekarang Jen menekuni pekerjaan itu, pekerjaan marketing.

Papi, sebenarnya banyak yang ingin Jen ceritakan ke papi, soal pekerjaan Jen, Koko, dan King-king tentunya, juga soal mami, tapi rasanya semua itu tidak akan habis ditulis. Yang pasti Jen hanya mau bilang ke papi, kita semua di sini baik-baik saja, tidak ada yang perlu papi khawatirkan. Pada kesempatan ini Jen cuma mau bilang ke papi:

“Terima kasih papi sudah menjadi seorang suami yang baik untuk mami.”

“Terima kasih papi sudah menjadi seorang ayah yang baik untuk Koko, Jen dan King-king.”

“Terima kasih papi sudah membekali kita, anak-anak papi dengan harta yang tidak akan pernah habis, yaitu ilmu pengetahuan.”

“Terima kasih papi sudah mengajarkan Jen kesabaran yang tiada habisnya, belas kasih yang tanpa pamrih, serta mengajari Jen untuk mencintai orang yang tidak sempurna secara sempurna… dan semua pelajaran itu telah papi contohkan dengan melakukannya sendiri…”

Papi, rasanya tidak cukup menuliskan semua kebaikkan papi di sini, dan segala ucapan terima kasih ini tidak akan bisa membalasnya.

Papi, kesempatan kali ini juga mau Jen gunakan untuk meminta maaf  sama papi:

“Maaf karena selama hidup papi mungkin seringkali Jen membuat papi kecewa, entah karena tidak bisa mendapat nilai yang bagus di sekolah, tidak bisa menjadi juara kelas, ataupun karena hal lainnya. Maaf pi, mungkin Jen bukannya tidak mampu, tetapi Jen memang kurang berusaha hingga akhirnya membuat papi kecewa…”

“Maaf karena sebagai anak Jen belum bisa membalas budi atas semua kebaikan yang sudah papi berikan sebagai orang tua. Jen belum bisa membahagiakan papi semasa papi hidup. Taukah papi entah kapan mulainya Jen selalu merasa takut ditinggal papi, selalu di dalam hati Jen merasa papi akan pergi meninggalkan Jen, karena itu di dalam setiap doa Jen selalu meminta ‘waktu’ dan ‘kesempatan’ agar bisa membalas budi papi dan mami serta membahagiakan kalian berdua. Tetapi rupanya permintaan sederhana itupun tidak dikabulkan pi… Jen gak menyalahkan siapapun, tetapi Jen hanya ingin papi tau kalau selalu dalam hati ini Jen berdoa untuk kebahagiaan papi, dimanapun papi berada…”

Papi, Jen gak tau sekarang papi ada di mana… banyak teori tentang kehidupan setelah kematian, apapun itu tetap menjadi misteri bagi yang masih hidup dan belum mengalaminya. Ada yang bilang pilihannya hanya dua, surga dan neraka, orang baik masuk surga, orang jahat masuk neraka. Papi orang baik, Jen percaya kalau pilihannya hanya dua, papi akan ada di surga. Tetapi lain lagi kalau pilihannya bukan hanya dua. Lain lagi ceritanya kalau suatu hari nanti kita diberi kesempatan untuk kembali berjodoh sebagai orang tua dan anak, seperti yang mungkin dulu pun pernah terjadi.

Apapun itu, Jen hanya ingin hidup saat ini, dimanapun papi berada saat ini, semoga papi selalu berbahagia, semoga papi tidak mengkhawatirkan kita semua yang masih hidup. Mami, Koko, Jen, dan King-king semua baik-baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan pi, cekcok kecil hal biasa dalam hidup, semua pasti bisa kita lalui dengan baik. Hiduplah dengan tenang, hiduplah dengan senang, Jen ingin melihat papi selalu berbahagia sampai kapanpun, di manapun, dalam wujud apapun, Jen hanya ingin melihat papi selalu tersenyum…

Papi sudah dulu ya, Jen harus tetap menjalani kehidupan ini, dan menikmatinya apapun yang terjadi, menyenangkan maupun tidak menyenangkan. Jen berusaha untuk selalu berbahagia, karena kita tidak pernah tau kapan saatnya hidup kita berakhir, seperti papi yang begitu cepat meninggalkan kita…

Doa Jen selalu, semoga papi selalu sehat, semoga papi terbebas dari penderitaan, semoga papi selalu berbahagia… Sadhu, sadhu, sadhu…

Jakarta, 25 Oktober 2009

~Jen~

Family

PS. Harusnya surat ini Jen tulis kemarin pi, tapi semalem mati lampu di rumah :)

Oh ya papi belum lihat foto keluarga kita kan? Banyak yang bilang foto ini bagus, dan di sini semua bilang muka Jen kayak papi… :D

Older Posts »