Feeds:
Posts
Comments

Hidup ini penuh dengan ketidakpastian. Pepatah bijak mengatakan bahwa yang pasti di dunia ini adalah ketidakpastian itu sendiri. Apa yang akan terjadi beberapa tahun ke depan, apa yang terjadi esok, apa yang akan terjadi satu jam ke depan, bahkan apa yang akan terjadi sedetik kemudian, tidak ada seorangpun yang tahu.

Ketidakpastian ini seringkali menimbulkan kekhawatiran-kekhawatiran dalam diri kita manusia. Kita seringkali memiliki banyak perencanaan untuk masa yang akan datang, rencana-rencana yang pastinya kita harapkan dapat berjalan sesuai yang kita pikirkan. Namun kenyataan seringkali berkata lain. Apa yang sudah direncanakan sebaik mungkinpun seringkali tidak terjadi sesuai apa yang diharapkan. Inilah ketidakpastian.

Lalu bagaimanakah seharusnya kita menyikapi ketidakpastian ini? Bagaimana kita mengatasi kekhawatiran yang timbul karenanya?

Dua bulan ini, setelah kembali ke Indonesia, tentunya yang saya lakukan adalah berusaha secepatnya mendapatkan pekerjaan. Selama ini boleh dibilang saya terhitung mudah untuk mendapatkan pekerjaan. Dan karena hal inilah mungkin saya jadi terlalu percaya diri dan berani mengambil keputusan keluar dari pekerjaan saya setahun yang lalu. Ditambah perhitungan waktu yang sudah saya rencanakan dengan baik, saya sangat yakin sekembalinya ke Indonesia saya akan dapat segera bekerja. Namun kembali lagi, karena hidup adalah ketidakpastian, begitupula hidup yang saya jalani. Siapa yang bisa menjamin apa yang sudah saya rencanakan bisa berjalan mulus. Meskipun ada beberapa panggilan kerja, bahkan yang sudah sampai tahap akhir, toh nyatanya sampai hari ini saya masih pengangguran.

Kenyataan ini membuat saya merenungi akan ketidakpastian hidup. Dalam proses menunggu ini saya menyadari kekhawatiran yang mulai saya rasakan. Kekhawatiran ini jelas sangat mengganggu karena di lain sisi saya menyadari tidak seharusnya kita hidup di dalam kekhawatiran. Kita seharusnya “pasrah” dalam menjalani hidup ini. “Pasrah” saya beri tanda kutip, karena “pasrah” di sini bukan berarti kita hanya berdiam diri ataupun menyerah. “Pasrah” atau saya lebih suka pakai istilah Jawa “nrimo” dan “legowo” adalah kondisi dimana batin tidak dipengaruhi kekhawatiran akan apa yang terjadi di kemudian hari. Ini adalah pengertian yang saya buat sendiri untuk diri saya sendiri. Kondisi ini adalah dimana kita sudah berusaha sepenuh hati, merencanakan sebaik mungkin, tapi tetap hasil akhir atau apa yang akan terjadi kita serahkan pada kuasa “Tuhan” sang Maha segala.

Dalam penantian akan ketidakpastian ini saya merasa “Tuhan” tengah mengajari saya untuk hidup di saat ini, hidup dengan “pasrah” di dalam ketidakpastian. Kehidupan ini bukanlah hitungan matematika dimana satu ditambah satu adalah dua seperti yang sudah disepakati oleh manusia. Hidup ini adalah sebuah misteri yang seringkali memberikan kita manusia begitu banyak kejutan. Yang harus saya lakukan adalah bersiap untuk setiap kejutan yang akan saya terima sambil tetap “hidup di saat ini”. Menghargai setiap detik waktu yang saya lewati dengan sebaik mungkin, dengan melakukan hal-hal yang berguna bagi kehidupan ini.

“Tuhan” selalu punya cara-Nya sendiri untuk menegur, mengajari, dan mencintai kita manusia. Dan saya sangat bersyukur bahwa hingga detik ini saya masih menerima pelajaran-pelajaran itu yang tentunya sangat berguna bagi saya dalam menempuh “perjalanan” ini…

Bangka, 25 July 2018

~Jen~

17.55 WIB

Advertisements

Waktu satu tahun itu begitu cepat berlalu. Tidak terasa setahun sudah aku meninggalkan Indonesia untuk tinggal di Taiwan. Dan sekarang setahun sudah berlalu, berarti saatnya kembali ke Indonesia.

Mungkin hanya beberapa sahabat terbaikku yang sesungguhnya mengerti apa tujuanku pergi ke Taiwan. Sebagian orang lainnya memiliki persepsi masing-masing termasuk anggapan aku datang ke negara ini untuk mencari jodoh? Ya tidak bisa disalahkan karena memang di masa lalu terdapat banyak perempuan Indonesia yang menikah dengan pria Taiwan.

Tapi tujuanku datang kemari lebih untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab dan untuk menunaikan bakti seorang anak, membalaskan budi baik yang sudah diterima. Selebihnya, aku belajar banyak hal di sini, sebuah pengalaman yang sangat berharga, menemukan apa itu arti kebahagiaan, arti kasih seorang ibu, belajar bahwa yang tampak di luar belum tentu sebenarnya, serta belajar arti melepas dan perpisahan.

Sebenarnya banyak sekali yang ingin kutulis, mungkin nanti satu persatu akan kutuliskan. Saat ini menungu boarding untuk kembali ke tanah air, mencoba menuliskan sedikit perasaan yang kurasakan. Tak terasa air mata berlinang, mungkin orang-orang akan memandangku aneh. Tapi biarlah, inilah aku yang selalu apa adanya. Saat ini aku pulang ke Indonesia, tapi satu hari nanti aku akan kembali lagi ke sini, ke Hualien, tempatku seharusnya berada…

Last sunset in Taiwan @Tamsui

Taipei, May 23rd, 2018

~Jen~

13:45 waktu Taipei

Waktu berlalu begitu cepat, tak terasa dalam hitungan hari tahun akan kembali berganti. Tak terasa pula sudah lebih dari setengah tahun aku meninggalkan negaraku, keluargaku dan teman-temanku, hidup seorang diri di Negara lain.

Keputusan untuk datang ke Negara ini sudah kupertimbangkan baik-baik, aku butuh sejenak beristirahat, keluar dari rutinitas yang selama ini aku tekuni. Aku perlu waktu sebentar untuk ‘bernafas’ dan menjernihkan pikiranku, serta memantapkan hatiku.

Selama tahun 2017 ini banyak hal yang aku alami, tinggal di tempat yang baru, perkenalan dengan teman-teman baru, belajar hal-hal baru,  semuanya merupakan pengalaman yang sangat berharga dan tak ternilai bagiku. Aku sangat bersyukur dan berterima kasih kepada-Nya, atas nafas yang masih bisa kuhembuskan hingga detik ini, dan atas pengalaman serta kesempatan untuk mempelajari hal-hal yang baru selama tahun ini.

2017_0901_15220900

Aku menyadari, selama tahun 2017 ini masih banyak kesalahan-kesalahan dan perbuatan-perbuatan buruk yang aku lakukan. Aku tidak ingin berdalih bahwa aku masih manusia yang tidak luput dari dosa, karena seringkali hal itu hanya menjadi pembenaran semata atas ketidakmampuanku untuk mengendalikan ucapan, pikiran dan perbuatanku. Tapi waktu yang sudah berlalu tidak bisa diputar kembali, begitupula kesalahan yang sudah diperbuat pastinya tidak mungkin dihapuskan. Yang masih memungkinkan adalah memperbaiki, walaupun memperbaiki tidak mengembalikan keadaan seutuhnya seperti sedia kala.

Atas semua kesalahan dan perbuatan burukku selama tahun ini, aku sadar dan siap menerima segala konsekuensinya di kemudian hari. Dan untuk tahun yang akan datang, aku berdoa semoga Tuhan memberiku kekuatan dan keteguhan serta kemampuan untuk bisa mengendalikan ucapan, pikiran dan perbuatanku, agar segala ucapan, pikiran serta perbuatanku senantiasa dilandasi oleh cinta kasih dan ketulusan.  Aku berdoa semoga nafas dan kehidupan yang masih diberikan kepadaku ini bisa bermanfaat bagi sesama yang membutuhkan.

Dan, semoga ‘pesan’ yang kuterima di tahun ini : 佛心,師志 bisa selalu kuingat dan kujalankan dengan sepenuh hati. Semoga alam semesta mengarahkanku pada ‘jalan’ yang seharusnya kutempuh. Semoga segala yang terjadi memang demikian adanya, Sadhu!

花蓮, 2017年 12月 30日 ; 12:15 A.M.

~Jen~

 

 

 

Keputusan Besar

simple reminders

picture taken from simplereminders.com

Sudah setahun lebih sejak tulisan terakhirku di blog ini. Sudah begitu banyak peristiwa yang terjadi yang sebenarnya begitu ingin kutuliskan di sini. Tapi entah mengapa, beberapa tahun terakhir ini, bagiku waktu seakan berjalan lebih cepat.

Kehilangan terbesar aku alami tahun lalu, ketika karma hidup mami di kehidupan ini berakhir. Mencoba tidak menyesali banyak hal yang belum kuperbuat untuk mami, di satu sisi aku bersyukur karena diberi kesempatan menemaninya di saat-saat terakhir, menghantarkan kepergiannya dengan doa setelah sebelumnya meminta maaf atas segala kesalahan yang kuperbuat selama hidup di dunia ini sebagai puterinya. Berterima kasih atas segala budi baik dan kasih sayang seorang Ibu yang telah kuterima, serta berjanji untuk melunasi segala “hutangku” nanti di kehidupan yang akan datang, kembali berjodoh sebagai orang tua dan anak, bersama dengan papi yang sudah terlebih dahulu pergi meninggalkan kami.

Seperti aku selalu percaya bahwa segala sesuatu tidak ada yang kebetulan, dan alam semesta telah mengatur segalanya sebagaimana mestinya, saat ini adalah saat aku harus melangkahkan kakiku, sebab “jalan” telah menantiku untuk melangkah…

Bukan sebuah keputusan yang mudah untuk meninggalkan tanah kelahiranmu, berhenti dari pekerjaanmu, meninggalkan keluarga dan sahabat-sahabatmu, lalu pergi jauh tanpa tahu masa depan apa yang akan menantimu. Tapi keputusanku sudah bulat, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku membuat keputusan besar dengan hanya memikirkan diriku sendiri. Memikirkan diri sendiri tapi untuk kebaikan yang lain, bukan atas dasar egois. Karena tanggung jawab dan balas budi terbesar merawat kedua orang tua sudah selesai dijalankan di kehidupan ini, tidak ada lagi yang patut aku risaukan. Apakah ini yang ada dalam pikiran pangeran Siddharta saat memutuskan untuk meninggalkan istana dan segala kehidupan duniawi? Belum, aku belum seberani pangeran Siddharta, tapi setidaknya satu langkah sudah kuambil, semoga langkah ini menuntunku ke tujuan akhir yang seharusnya.

Sebenarnya aku masih seperti bermimpi. Jika tiada aral melintang, dalam hitungan kurang dari dua bulan lagi aku sudah akan meninggalkan tanah airku, pergi untuk menggapai apa yang menjadi cita-citaku. Rasa berat hati kadang masih kurasa, terlebih karena harus meninggalkan orang-orang yang selama ini cukup dekat denganku. Tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di beberapa negara yang selama tiga tahun terakhir ini kerap kukunjungi karena urusan pekerjaan. Rekan bisnis perusahaan tempatku bekerja, rekan sekerja, bahkan orang-orang yang berjodoh bertemu denganku seperti Dy, si Tuk Tuk Driver di Kamboja yang selalu mengantarkanku saat sedang di sana. Seakan tahu mungkin ini adalah saat terakhir kami bisa bertemu, setelah mengantarku ke pool bus, dia menyempatkan diri untuk mencoba berbincang-bincang denganku dengan bahasa Inggris yang sepotong-sepotong, bahkan sampai membelikanku minuman. Dia meninggalkan kesan terakhir yang manis, semanis minuman aloe vera yang dibelikannya untukku, dan yang terpenting dia meninggalkan sebuah persahabatan.

aloevera

Seperti yang pernah kutulis, bahwa dalam kehidupan ini dapat bertemu adalah suatu “jodoh”, karena mungkin di banyak kehidupan lainnya kita pernah bertemu. Tetapi ada saat bertemu ada pula saat berpisah, karena segala sesuatu tidaklah kekal. Sekalipun aku benci perpisahan dan selalu menangis karenanya, tapi biarlah air mata itu menandakan rasa terima kasihku atas segala persahabatan, kasih sayang dan jodoh baik yang sudah terjalin di dalam kehidupan ini.

True Friends don’t say Good-Bye, They just take extended leaves of absences from each other…

~Jen~
March 25, 2017
08.10 pm

Ditulis di dalam bus yang mengantarku dari Phnom Penh ke Ho Chi Minh

Hari terakhir di Philippines, setelah lebih seminggu di negara ini, berpindah dari satu kota ke kota lain, bahkan satu pulau ke pulau lain. Menempuh perjalanan dengan berbagai moda transportasi, mulai dari pesawat, kapal ferry sampai jalan darat selama 6 jam. Dan sekarang mengisi waktu dengan menulis sambil menunggu penerbangan berikutnya ke negara lainnya. Belum, gue masih belum akan kembali ke Indo sampai 10 hari ke depan. Masih ada dua negara lagi yang harus dikunjungi dari perjalanan bisnis kali ini. Capek? Pastinya. Bosen? Kadang-kadang. Kangen rumah dan Indo? Jangan ditanya, terlebih makananya. Hahaha…

Kali ini gue mau cerita tentang kejadian hari ini. Pagi tadi karena sudah hari terakhir, kita menyempatkan mengunjungi Philippines Taoist Temple di Cebu, kota terakhir yang dikunjungi, yang kebetulan tidak jauh letaknya dari hotel tempat menginap. Bangunan kuil di atas bukit yang tinggi, sangat indah dengan tanaman yang asri.

image

Di kuil ini, mungkin seperti kuil Tao ataupun Konghucu lainnya, kita bisa bertanya pada dewa-dewa di sana dengan ciamsi. Tadinya gak ada niatan gue buat tanya-tanya, karena gue lagi merasa gak punya masalah, tapi karena salah satu dari rombongan kita ada yang mau bertanya, akhirnya gue jadi ikutan pengen nanya sesuatu. Yang mau gue tanya bukan hal yang simpel, dan buat gue sebenernya ini penting, walaupun ini bukan sebuah ‘masalah’.

Sama halnya seperti yang gue inget waktu gue masih kecil, di wihara di kota kelahiran gue, untuk bertanya dengan ciamsi ada aturannya. Setelah berdoa, maka harus bertanya dulu pada dewa di sana ‘apakah boleh mengajukan pertanyaan’, karena belum tentu kita diijinkan untuk bertanya. Terakhir kali saat wihara di kota kelahiran gue masih ada bertanya pakai ciamsi (sekarang bertanya pakai ciamsi sudah dihilangkan dari wihara ini), yang gue inget selalu saja gue gak diijinkan bertanya. Dua buah kayu yg bila dikatupkan berbentuk seperti biji kacang itu (gue gak tau namanya) selalu tertelungkup yang menandakan ‘tidak’. Dan itu juga yang terjadi hari ini, dua kayu itu tertelungkup tanda gue tidak diijinkan bertanya. Yah gue juga gak maksa sih, lagian pertanyaan ini, sebenernya sudah beberapa kali gue tanyain ke berbagai sarana bertanya termasuk tarot reader, dan hasilnya? Selalu tidak ada jawaban, atau lebih tepatnya sepertinya gue tidak diijinkan untuk tau jawabannya.

Dan seperti biasa, tidak ada yang namanya kebetulan, pesan yang gue dapat hari ini melalu salah satu applikasi di facebook, seperti sebuah nasihat yang mungkin ingin disampaikan kepada gue oleh Tuhan, para Dewa dan juga alam semesta ini.

image

Tidak perlu lagi gue tulis ulang, pesannya sudah jelas tertulis di gambar di atas. Yah, mungkin gue emang harus ‘berhenti’ bertanya untuk satu hal itu. Gue jadi teringat pesan yang pernah gue terima sebelumnya, cukup jalanilah kehidupan ini dengan tulus, dan gue percaya suatu hari nanti, tidak ada lagi pertanyaan itu. Apapun itu jawabnya, yang harus gue yakini, itulah ‘jalan’ yang harus gue tempuh, baik di kehidupan ini maupun kehidupan-kehidupan gue yang akan datang. Semoga demikianlah adanya, Sadhu!

Manila, 26 February 2016
~Jen~
9.50pm waktu Manila

Finally, China!

image

Dah beberapa kali rencana gue ngajak nyokap ke China selalu gagal karena berbagai sebab. Janji ngajak nyokap ke China itu seperti hutang yang belum lunas dibayar. Tahun kemarin usia nyokap gue udah menginjak kepala 7, buka umur yang muda lagi dan gue bersyukur Tuhan masih memberikan nyokap gue umur dan kesehatan. Menyadari hal ini, gue jadi bertekad kembali, tahun 2016 ini gue harus ngajak nyokap ke China.

Entah apakah ini suatu kebetulan, tapi kan tidak ada yang namanya kebetulan ya, baru aja memasuki awal tahun, tiba-tiba gue ditugasin oleh kantor untuk pergi ke China. Dan gak tanggung-tanggung gue langsung pergi mengunjungi 4 kota sekaligus: Shenzhen, Dongguan, Guangzhou dan Foshan.

Memikirkan hal ini entah kenapa gue jadi merasa betapa Tuhan sungguh baik, belakangan ini hampir apa yang gue ingin dan tekadkan sepertinya menjadi kenyataan. Yah kembali lagi tidak ada yang namanya kebetulan, semoga tekad gue untuk ke China dengan nyokap bener-bener bisa terwujud tahun ini. Lalu terbayarlah hutang gue dan setelah itu entah mengapa gue merasa sesuatu yang besar bakal terjadi dengan hidup gue.

Doa gue semoga alam semesta mewujudkan apa yang seharusnya terjadi.

Guangzhou, 17 January 2016
~Jen~
01.05 am waktu China

A Little Prayer

image

Gak pengen banyak omong, kali ini cuma punya satu keinginan, itupun kalau boleh memiliki keinginan. Dan berharap alam semesta mengabulkan keinginan sederhana ini…

Seperti yang tercantum di quote di atas, semoga kaki ini membawaku melangkah ke mana hati ini sebenarnya ingin melangkah, dan yang memang seharusnya demikian adanya…

Semoga semoga semoga…

Ha Noi, 28 November 2015
~Jen~
10.35 waktu Ha Noi